Berprasangka Baik Kepada Allah

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

– Q.S Al Insyirah : 6 –


Awal bulan Februari kemarin saya mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh USC (Uswah Student Center). Sebenarnya seminar ini ditujukan untuk anak-anak SMA di Surabaya sih, tapi karena tertarik dengan pembicaranya (Salim A. Fillah, pengarang buku best seller “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim) dan Shofwan Al Banna, Mawapres Nasional dan pengarang buku “Ramadhan is Dead”) akhirnya saya dan satu orang teman saya nekat mendaftar seminar tersebut. Untungnya sewaktu datang ke TKP ternyata lumayan juga jumlah peserta dari golongan mahasiswa :D. Seminar ini membahas tentang pemuda, tapi di post kali ini saya tidak membahas hal tersebut. Saya akan bercerita sedikit tentang salah satu kisah yang diceritakan oleh Pak Salim saat sesi tanya jawab.

Kisah ini tentang seorang laki-laki paruh baya miskin dan keluarganya. Meskipun hidup miskin dan serba kekurangan tapi laki-laki ini ingin menafkahkan hartanya di jalan Allah. Dia tidak keberatan hidup miskin di dunia karena dia tahu harta yang dinafkahkan di jalan Allah kelak akan memudahkan jalannya di akhirat nanti. Hmmm.. sangat berbeda ya dengan orang-orang jaman sekarang? Semua berlomba-lomba mengumpulkan harta. Tidak peduli halal atau haram. -_-

Uang yang didapat dari hasil laki-laki itu bekerja dikumpulkan sedikit demi sedikit dan akhirnya dia dan keluarganya sepakat untuk membeli kuda uang tersebut. Kuda tersebut dipelihara supaya bisa digunakan sebagai kuda perang yang tangguh dan dia berharap kuda tersebut bisa berguna dalam jihad fisabilillah. Salah seorangg tetangga berkata saat melihat laki-laki itu pulang membawa kuda yang sangat bagus. “Wah, kudamu sangat bagus. Pasti kau mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membeli kuda ini.”. Laki-laki itu menjawab sambil tersenyum, “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Saya berprasangka baik kepada Allah”. Tetangga tersebut pulang setelah mendengar jawaban laki-laki tersebut.

Kuda tersebut dirawat dengan sangat baik oleh laki-laki itu dan keluarganya. Sampai pada suatu hari kuda tersebut hilang. Kandang tempat kuda tersebut biasanya dirawat rusak, kuda tersebut lari dari kandangnya. Sampai beberapa hari laki-laki tersebut menunggu kuda tersebut namun kuda itu tidak pulang lagi ke kandangnya. Tetangga laki-laki itu berdatangan lagi dan salah seorang berkata, “Kuda sebagus itu hilang? Kau pasti merasa sangat kehilangan. Kuda itu kan harganya mahal sekali.”. Laki-laki itu kembali menjawab sambil tersenyum, “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Saya berprasangka baik kepada Allah”.Tetangga tersebut kembali pulang setelah mendengar jawaban yang aneh dari laki-laki itu.

Beberapa hari kemudian, terdengar suara gaduh dari kandang tempat kuda itu hilang. Laki-laki itu dan anaknya segera bergegas ke kandang kuda dan melihat bahwa kudanya telah kembali. Tak hanya itu, kuda itu ternyata membawa teman-temannya ke kandangnya. Mungkin kuda tersebut keluar untuk mengajak teman-temannya karena merasa bahwa ia diperlakukan dengan baik oleh laki-laki itu. Mendengar suara gaduh itu, tetangga-tetangga pun berdatangan kembali. Salah seorang berkata, “Wah, kudamu sudah kembali dan dia membawa serta teman-temannya. Sekarang kau punya banyak kuda!”. Laki-laki itu kembali menjawab sambil tersenyum, “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Saya berprasangka baik kepada Allah”.Tetangga tersebut kembali pulang setelah mendengar jawaban yang aneh dari laki-laki itu.

Pada suatu hari anak remaja dari laki-laki tersebut belajar mengendarai kuda. Remaja itu terjatuh dari kuda dan mengalami patah tulang pada kakinya. Tetangga-tetangga kembali datang untuk menjenguk anak tersebut. Salah seorang tetangga berkata, “Kudamu bertambah banyak, tapi sekarang anakmu mengalami patah tulang. Sungguh kasihan sekali.”. Laki-laki itu kembali menjawab sambil tersenyum, “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Saya berprasangka baik kepada Allah”.Tetangga tersebut kembali pulang setelah mendengar jawaban yang aneh dari laki-laki itu.

Beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa akan ada perang dan prajurit istana mendatangi setiap rumah untuk membawa perintah wajib militer bagi setiap pemuda. Pada hari perintah wajib militer itu dikeluarkan, para tentara istana menginspeksi setiap rumah dan menarik pemuda-pemuda yang mampu berperang. Sampailah para tentara istana di rumah lelaki tersebut dan mendapati seorang pemuda disana. Akan tetapi melihat kondisi pemuda tersebut yang sedang menderita patah tulang akhirnya tentara istana tersebut berkata, “Dengan kaki patah seperti itu, dia tidak akan bisa berperang. Kita tidak usah membawa dia.” Setelah para tentara itu pergi, lelaki tersebut berkata pada anaknya, “Perang itu adalah perang konyol antara sesama muslim. Kamu memang seharusnya tidak usah berperang dalam perang seperti itu.”. Beberapa saat kemudian para tetangga berkumpul dan setelah mendapati ternyata anak lelaki tersebut tidak diikutkan berperang, salah seorang tetangga berkata, “Beruntung sekali kamu, karena patah tulang anakmu tidak diwajibkan berperang.” Untuk yang kesekian kalinya laki-laki itu kembali menjawab sambil tersenyum, “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Saya berprasangka baik kepada Allah”.

Perang tersebut berakhir dengan kekalahan dan banyaknya prajurit yang mati dalam perang. Banyak sekali pemuda yang gugur dalam peperangan tersebut terutama yang berasal dari desa tempat lelaki itu berasal.

Beberapa tahun kemudian terjadi perang kembali, tetapi kali ini adalah perang melawan tentara musuh Islam dan semua orang baik pemuda, maupun orang tua yang masih mampu mengikuti perang dengan suka rela mengangkat senjata untuk membela negerinya dari serangan musuh Islam. Dalam perang tersebut anak lelaki tersebut menjadi prajurit depan dalam barisan dan bahkan dipercaya menjadi salah satu panglima perang. Karena kelihaiannya dalam mengatur strategi perang akhirnya pemuda tersebut menjadi pemimpin perang yang disegani dalam perang tersebut maupun perang-perang yang terjadi setelahnya.

That’s the story.. sudah bisa mengambil hikmahnya?

Jadi, kalau Anda merasa bahwa cobaan datang bertubi-tubi, ingatlah bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan setelahnya. Kita harus selalu ingat bahwa Allah menciptakan cobaan melainkan untuk menguji hamba-Nya dan ujian itu merupakan satu bentuk rasa sayang Allah kepada kita. Sekarang tinggal bagaimana kita memaknai setiap cobaan dan mengambil hikmah di balik cobaan-Nya ^_^

Comments: 2

  1. madna 2010/03/08 at 8:13 AM Reply

    🙂

    Allah akan selalu menguji hamba-Nya. Itu kan janji Allah di dalam Al-Qur’an. Namun, bukan hanya karena Allah sayang pada hamba-hamba-Nya, namun Allah juga sedang memberi ‘madrasah’ untuk menciptakan hamba-hamba-Nya sebagai orang-orang yang terpilih. Sebagai orang-orang yang besar. Sebagai khalifah di muka bumi. Dan itupun tidak hanya dengan rasa lapar dan ketakutan tapi juga dengan ujian rasa kenyang, rasa aman, dan rasa nyaman. Itu semua untuk mendidik hamba-Nya menjadi orang yang berbeda dengan manusia yang lain. Sebagai orang-orang yang terpilih.

    Kata orang, jika kamu tidak merasakan hujan, kamu tidak akan tahu bahagianya melihat pelangi dan matahari yang bersinar terang. Jika kamu tidak merasakan teriknya mentari yang bersinar, kamu tidak akan pernah tahu bahagianya melihat mendung yang berarak. Jika kamu tidak merasakan mendung dan petir dan bersautan, kamu tidak akan pernah tahu bahagianya melihat hujan yang membasahi alam dan memunculkan kehidupan di atasnya.

  2. ikaaa 2010/03/12 at 9:16 PM Reply

    🙂

    “Saya tidak tahu apakah ini rahmat atau musibah. Saya berprasangka baik kepada Allah”

    Semoga kita slalu istiqomah di jalanNya, Aamiin 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.