Catatan Pengantin Baru

Kalau melihat judul itu, jangan berpikiran macam-macam dulu…

Bukan aku yang menikah…

Sumpah! :p

Emangnya kalau aku nikah, sama siapa??? >.<

Yang menikah adalah teman SMA-ku. Tapi kalau didoakan cepat menikah, aku amini saja ^_^. Hahaha..

Selamat ya buat D*** (cowok) n L*** (cewek)! Semoga pernikahan kalian langgeng dan diberkahi Allah. (ga nyebutin nama ah… menjaga kerahasiaan dan privasi :p)

Jadi ceritanya aku yang sedang kurang kerjaan – karena selama liburan satu minggu hanya ada di rumah saja – mengajak salah satu teman SMA-ku untuk jalan-jalan. Daripada bingung jalan-jalan kemana, akhirnya aku mengusulkan untuk mengunjungi teman SMA-ku yang baru saja menikah (Sebenarnya sudah ada rencana mengunjungi dari 2 bulan yang lalu tapi batal gara-gara tidak ada teman kesana >.<). Akhirnya aku dan tiga orang temanku (dua orang lainnya ‘diculik’ langsung dari rumah mereka) mengunjungi si D dan L di rumah kontrakan yang nun jauh disana.

Sebenarnya agak kaget juga waktu dulu diberi tahu kalau si D dan L ini akan menikah. Dulu dua-duanya teman sekelasku waktu kelas 2 SMA dan yang aku tahu mereka bersahabat. Itu saja. Sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya mereka akan menikah cepat walaupun pernah dengar kabar kalau mereka berdua sempat berpacaran sebentar saat awal-awal kuliah sih.

Awalnya sempat berpikiran macam-macam soalnya ada juga teman SMA yang cepat-cepat menikah gara-gara kecolongan alias MBA (Married By Accident). Na’udzubillah.... Ternyata… oh ternyata… si D yang dulu kukenal sangat riang dan dekat dengan teman-teman yang lain sekarang menjadi ikhwan tulen! Itulah kenapa dia ingin menikah cepat-cepat. Menggenapkan separuh agama! (Maafkan saya yang telah berpikiran macam-macam >.<)

Saat pertama kali bertemu dengan D di depan rumah kontrakannya, dia sama sekali tidak menyapa kami – kebetulan 4 orang yang berkunjung semuanya cewek – seperti yang biasa dia lakukan dulu. Sempat merasa aneh dan merasa kehilangan D yang dulu. Rasanya susah me’matching’kan antara D yang sekarang dengan D yang dulu kukenal. Hahaha… tapi kan dia sekarang jadi ikhwan, seharusnya aku bahagia karena dia sudah menemukan jalan hidup yang benar dan harusnya aku bisa memahaminya. Toh, di kampusku banyak juga ikhwan yang setipe dengan dia (berjanggut, celana cingkrang, ghadul bhasar alias menundukkan pandangan, semacam itulah…). Apa mungkin karena aku tahu D dulunya seperti apa ya.. jadinya susah menerima kalau sekarang dia sudah berubah? =p

Kembali ke cerita…

Subhanallah. Melihat pasangan pengantin baru yang satu ini memang menimbulkan decak kagum tersendiri. Meskipun kalau dilihat dari riwayat kehidupan SMA, kedua orang ini sama sekali ga ada alim-alimnya – sama seperti aku (>.<) – dan pernah punya riwayat pacaran sekali waktu awal-awal kuliah, tapi pada akhirnya dua orang ini sadar kalau mereka ga bisa pacaran lagi karena memang pacaran itu tidak ada dalam Islam. Yup, dalam hadist atau surat mana yang menjelaskan kalau pacaran itu diperbolehkan dalam Islam? Yang ada hanya aturan pernikahan. Titik. Jadi tidak ada alasan untuk membenarkan pacaran. OK?

Kembali lagi pada D dan L..

Masih takjub pada perubahan yang terjadi pada D, aku langsung dibuat kagum pada L, sang istri, yang ternyata mau bercadar setelah menikah dengan D sebagai salah satu syarat pernikahan. Subhanallah… Sungguh-sungguh keluarga yang (semoga menjadi) sakinah, mawadah warrahmah. Melihat mereka berdua, hati begitu tentram rasanya…

Setelah dipersilakan masuk oleh L ke ruang tamu, akhirnya kami berempat dan L bercerita banyak tentang pernikahan dan segala tetek bengeknya sementara si D – yang sepertinya sibuk – berada di dalam kamar (padahal kalau D yang dulu kukenal pasti sudah ikut nimbrung ngobrol :p). Lewat perbincangan ini aku jadi menyadari sesuatu, ternyata orang yang sudah menikah itu akan jauh kelihatan lebih dewasa daripada yang belum menikah ya? Terlihat sekali dari bagaimana perbedaan L dengan kami berempat dalam berbicara maupun mengeluarkan pendapat. Yang jelas, aku mendapat banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kunjungan ini.

Pelajaran pertama, kalau sudah saling suka dan mampu, langsung nikah!

Berawal dari pertanyaan standard “Kok tiba-tiba nikah cepat sih?”

Lalu jawaban yang pendek aku dapat dari L “Kan sudah ada calonnya”. Kami berempat langsung terdiam. Tertohok lebih tepatnya. Dalam hati aku hanya berkata Subhanallah. Jawaban L memang terdengar simpel, sederhana, jujur bahkan bisa jadi menurut beberapa orang naif, munafik atau apalah. Tapi bagiku itu adalah jawaban yang menyiratkan keberanian seorang wanita. Ya, keberanian seorang wanita untuk melepaskan masa gadis dan kebebasannya kepada seorang lelaki yang akan menjadi suaminya. Tidak banyak loh wanita yang bisa seperti dia…

Kebanyakan wanita akan menunda-nunda pernikahan (mungkin aku juga termasuk -_-) karena alasan masih belum yakin dengan calon, masih ingin sukses dulu, masih ingin menikmati masa muda dahulu, dan berbagai alasan lainnya. Akan tetapi temanku satu ini hanya dengan berbekal rasa saling menyayangi dan perasaan bahwa mereka mampu menikah, akhirnya mereka menikah juga meskipun kalau dibilang keduanya masih belum begitu mapan karena masih sama-sama kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan tetap.

Bukankah Allah sendiri yang memerintahkan kepada hamba-Nya, apabila seorang hamba menyukai seseorang untuk dijadikan pasangan hidupnya dan dia telah mampu maka hendaknya ia segera menikah untuk menyempurnakan separuh dien?

Pelajaran kedua, menikah muda itu banyak hambatan terutama dari pihak keluarga

Bukannya menakut-nakuti, tapi inilah yang memang terjadi pada L saat dia mengutarakan keinginannya untuk menikah kepada kedua orangtuanya. Ayahnya sih katanya setuju-setuju saja, tetapi ibunya yang menolak dengan alasan L masih kuliah, belum merasakan kerja, dan berbagai alasan yang biasa diungkapkan orangtua (orangtuaku juga berpikiran sama -_-‘). Proses meyakinkan orang tua memang tidak mudah terutama untuk orang yang menikah muda, bahkan L sempat hampir mundur karena terus-terusan dilarang oleh ibunya. Akan tetapi pada akhirnya setelah 5 bulan yang panjang dan menegangkan akhirnya ibu si L mau merestui pernikahan mereka.

Kalau aku yang jadi si L, kira-kira berapa lama ya waktu yang aku butuhkan untuk meyakinkan kedua orangtuaku (plus keluarga besarku) supaya aku bisa cepat-cepat menikah? Hehe:p

Intinya adalah jangan menyerah kalau ingin menikah muda. Hambatan dari pihak keluarga itu pasti ada, terutama tentang permasalahan kuliah dan karir pihak cewek. Restu orang tua itu penting jadi jangan sampai karena ingin menikah dan belum diijinkan orang tua akhirnya jadi kawin lari ya :D. Apabila niat kita baik dengan menikah muda agar menjaga diri dari fitnah dan untuk melengkapi separuh agama, insya Allah akan diberi kemudahan kok. Orang tua pasti lama-lama akan mengerti apabila kita terus berusaha meyakinkan mereka bahwa yang kita lakukan itu adalah sebuah ibadah. Orang tua seharusnya tidak menghalang-halangi anaknya untuk beribadah kan? 😀

Pelajaran ketiga, kalau sudah menikah itu ibadah jadi tenang

Sudah sering sih membaca kalimat itu di artikel-artikel tentang pernikahan yang pernah aku baca, tapi mendengarnya sendiri dari orang yang “sudah berpengalaman” ternyata memberikan kesan yang berbeda. Kalau dulu aku berpikiran “Masa iya sih?”, setelah mendengar cerita langsung dari sumbernya, aku jadi percaya kalau sudah menikah itu ibadah jadi tenang. Kalau menurut si L sih, setelah menikah ibadahnya jadi tambah tenang dan rajin karena sudah ada sang suami yang menemani setiap saat.

Menurut L, syaitan itu bekerja sangat keras pada waktu antara khitbah (lamaran) dengan pernikahan. Caranya dengan membuat calon pengantin yang sudah dikhitbah terus kepikiran tentang pernikahannya nanti, entah itu persiapan pernikahan, kemantapan hati untuk menikah, dan sebagainya. Benar juga sih, tidak jarang aku mendengar banyak orang yang jadi terlalu bersemangat untuk mempersiapkan pernikahan sampai-sampai shalat saja tidak bisa khusyu’ atau yang lebih parah, adanya keragu-raguan yang muncul setelah khitbah, apakah calon yang telah diterima itu sesuai atau tidak untuk jadi pasangannya. Kasus kedua ini lebih berbahaya dari kasus pertama karena bisa jadi orang tersebut akhirnya membatalkan khitbah karena merasa tidak cocok dengan calon pasangannya. Padahal syaitan lah sebenarnya yang membisikkan keraguan dalam hatinya supaya pernikahan gagal dilakukan. Bukankah syaitan selalu menghalangi hamba-Nya yang ingin beribadah?

Jadi, banyak-banyak mendekatkan diri pada-Nya kalau sudah dikhitbah supaya ada kemantapan hati dan tidak mudah diperdaya syaitan. Ya…ya… akan kuingat saranmu, L.

Pelajaran keempat, suami/istri kita adalah orang yang paling tampan/cantik sedunia

Belajar tutup mata dan sugesti diri. Itu kuncinya.

Memang susah menutup mata kalau melihat ada makhluk yang cantik atau tampan melintas di hadapan kita, namun saat kita sudah menikah maka kita harus belajar menerima pasangan kita dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka termasuk dalam hal fisik. Semua itu harus dilakukan supaya orang yang sudah menikah tidak terperdaya untuk berpaling pada orang lain.

Pelajaran keempat, hubungan suami istri harus berdasarkan ibadah, bukan nafsu

Sebenarnya agak-agak risih membicarakan topik ini, tapi kata L ini penting untuk diketahui karena salah satu tujuan menikah adalah mempunyai keturunan yang baik dan untuk mendapatkan keturunan pastinya harus.. (u know what).

‘Tragedi’ yang terjadi pada malam pertama (terutama yang terjadi pada pengantin wanita yang masih perawan) bisa mengukur apakah seks yang dilakukan oleh sang suami itu dilandasi ibadah atau hanya sekedar nafsu. Tahu sendiri kan, biasanya pihak wanita akan mengalami rasa sakit kalau melakukannya pertama kali? Nah, suami yang menjadikan ibadah sebagai dasar melakukan seks akan berusaha memahami sakitnya sang istri saat berhubungan suami istri. Tetapi suami yang melakukannya atas dasar nafsu biasanya tidak begitu memperdulikan sakit yang dirasakan istri tetapi hanya memperhatikan kepuasan yang dia peroleh. (jadi ngeri membayangkan >.<). Nah, karena itu bersikap terbuka lah pada suami kalau kita memang merasakan sakit (itu saran dari L). Aku sendiri masih malu dan takut memikirkan hal itu…

Oh ya, ingat untuk shalat dan berdoa sebelum melakukan ya.. supaya anak yang nantinya lahir bisa menjadi anak yang saleh. Amiin. (kalau yang ini saran dari artikel tentang pernikahan yang dulu pernah kubaca. Lupa sumbernya -_-)

Pelajaran kelima,  nggak harus pintar memasak kalau ingin menikah muda

Temanku itu mengaku kalau saat menikah dia sama sekali tidak bisa masak. Sayur sop pertamanya sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai makanan (katanya sih begitu). Tapi bukan berarti istri kemudian melupakan kewajibannya untuk memasak bagi suami, jadi meskipun saat menikah belum bisa memasak, tetap harus belajar memasak dong.

NB: Kalau dipikir-pikir berarti masakanku masih lebih mendingan daripada L. Sayur sop pertamaku masih berasa seperti sop, bahkan aku pernah membuat sambal goreng tempe plus udang dan juga pernah membuat dadar jagung plus udang (jangan tanya kenapa semuanya berbau udang :D). Berarti kalau jadi istri, paling tidak aku masih bisa memasak sayur sop untuk makanan sehari-hari 😀 –>senyum penuh kemenangan.

Tuh kan, banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dari bincang-bincang empat cewek (baca: belum menikah dan jadi ingin segera menikah gara-gara ‘hasutan’ L >.<) dengan seorang cewek yang baru saja menikah ini. Sebenarnya masih banyak lagi yang lain, tapi sengaja dirahasiakan demi privasi sesama cewek :D.

Setelah ngobrol kurang lebih 3 jam, akhirnya sekitar jam 8 malam kami berempat mengundurkan diri dari rumah kontrakan yang mungil itu. Ternyata mengobrol dengan teman lama itu menyenangkan, sampai tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.

“Kamu beruntung banget L” ucapku saat pamitan. Kata-kata itu keluar dari lubuk hati terdalamku (ciee…) karena memang benar begitulah adanya. Siapa sih yang nggak beruntung kalau dapat suami yang dia cintai sepenuh hati dan mencintainya juga, seorang ikhwan tulen yang mampu menjaga pandangan dari wanita lain karena dia menganggap istrinya lah yang paling cantik di dunia ini dan yang paling penting bisa membimbing sang istri dalam jalan yang dirahmati Allah? Siapa yang nggak pengen?

Aku jadi berkhayal sendiri.. bisa nggak ya aku mendapat suami seperti itu nanti? Seorang yang menyayangiku apa adanya, saleh, bisa membimbingku ke jalan yang benar, jadi pemimpin keluarga yang baik dan adil serta menganggap aku sebagai wanita teristimewa dan terakhir dalam hidupnya (ngayal tingkat tinggi. Wkwkwkwk…).

Well, who knows?

Someday, maybe?


Yup, someday… I believe 🙂

Someone in somewhere made for me 😀 (berkayal mode on)

Comments: 19

  1. who? 2010/01/22 at 11:44 PM Reply

    ikut mengamini aja..
    amieen!!!!

    • pernikahan adat 2010/06/01 at 10:33 AM Reply

      salam, saya suka dengan opini dan gaya penulisan anda, edukatif dan sangat terbuka, semoga saya bisa mencontoh anda dalam memberikan pemikiran dan saran bagi sesama, semoga sukses selalu.
      @ pengantin adat Indonesia.

      • indikablog 2010/06/01 at 2:51 PM Reply

        Terima kasih ^_^ *padahal ndak pinter bikin artikel*
        Semoga artikel ini bisa berguna juga untuk pembaca yang lain.

  2. lely 2010/01/23 at 3:54 PM Reply

    kayalan yang sama, hehe…
    smoga kesampaian ya, amiiin
    bagus pit, haha…btw, jd penasaran ni ama yg dirahasiakan :p

  3. indikanoor 2010/01/25 at 9:33 AM Reply

    hai..hai..assalamualaikum, just blogwalking… saya merasa lucu sekaligus amazed ternyata ada manusia lain di belahan dunia ini yang punya nama yang sama hehehe..

    salam kenal,say ^_^

    mampir2 doong

    wassalamualaikum..

  4. Evan 2010/01/28 at 10:49 PM Reply

    Subhanallah, kereeen pit… 🙂
    Tdi dikasih tahu mas Andam kl ada artikel bagus.
    Heeem, artikel ini membuatq berpikir2 ttg byk hal.

    Waktu terus mengejar n hrs sgr dipersiapkn.
    Semoga Qt semua bs mendapatkn Pendamping Dunia & Akhirat yg Terbaik dr Allah.
    Tentunya dengan proses yg membawa Barokah n terhindar dr kemaksiatan.
    Membentuk keluarga yg Mawaddah Warohmah.
    Amiiin…

  5. madna 2010/01/29 at 7:54 AM Reply

    hanya mau beri 🙂
    dan berdoa … Amiin
    terima kasih telah banyak mengingatkan

  6. indikablog 2010/02/02 at 3:31 PM Reply

    @who?
    Makasi ya. kamu sendiri kapan nikah? dah ada calonnya gitu.. ^_^

    @lely
    haha. kalo mau tau langsung ak kasi tau aja lel. Girls only soale =p

    @indikanoor
    haha.. iya. Kapan-kapan mampir ke blogmu juga.

    @Evan
    Makasi sudah berkunjung ke blog ini. Padahal aslinya nulis artikel ini gara2 iseng aja.
    Moga2 cepet dapet jodoh yang baik deh.. Amiin

    @madna
    Sama2. Makasi sudah bilang artikel ini bagus (mulai besar kepala.. Astaghfirullah >.<)

  7. ikaaa 2010/02/04 at 12:58 PM Reply

    hoaaa,.. tambah 1 lagi de yg ‘menghasut’ untuk segera menggenapkan separuh din ^^
    (mana q hbs dr walimah nikahan ikhwan-akhwat)
    woaaaa,..

    Aamiin
    Q bntu doa ni pit,. ^^

  8. lill.princesz 2010/02/19 at 12:01 PM Reply

    subhanallah .. jd pngen cped” menikah , hhi .
    bguss skalii say isi blog” nya ..
    jng berhenti buad crt” lg iia , biar aku bs baca” n tmbh ilmu , hhi .

    salam kenal iia ^^

    • indikablog 2010/03/08 at 1:55 PM Reply

      @ika:
      Hehe
      Kamu yg ga denger secara langsung aja merasa terhasut ka,…
      Apalagi aku yg denger langsung dr org yg bersangkutan >.<

      Kamu sendiri dapet wejangan apa aja pas walimahan? pasti dihasut juga ya. Wkwkwk

      Amiin.. sama2 saling mendoakan.
      Moga2 kita semua dapet jodoh yang terbaik buat kita ^_^

      @lill.princesz:
      InsyaAllah, moga2 bisa crita2 lagi
      Terima kasih sdh mampir di blog ini ^_^

  9. rizkianto 2010/03/13 at 5:07 AM Reply

    hmmm… bagus bagus…. 🙂

  10. L 2010/04/20 at 10:49 AM Reply

    hmm.
    akhirnya baca juga cerita ini,,

    yah.. yah..

    pngalaman yg ingin kutambahkan:
    jangan pernah menyerah untuk menyatukan hati dalam karakter dan sifat yang berbeda, amat sangat berbeda..

    jangan pernah berpikir MISKIN saat nikah muda,
    coz walau dulu ortu kami melarang, tapi kenyataannya, mereka yang membesarkan harapan n impian kami dengan motivasi mereka sampe sekarang akhirnya mandiri sudah kami dapatkan tanpa “beasiswa” dari mereka;)berpikirlah KAYA, karena ini adalah modal bagi mental kita…

    smangat kawaaaaaaaannd!!
    doain kami untuk slalu jadi pasutri yang selalu menggemgam risalah yang d bawa Rasulullah dalam menjalani bahtera pernikahan ini:)

    thanx for pity,
    wish this articel would be usefull, always, for everyone who read it..

    buat semua,
    smg Allah menenangkan saat jiwa berguncang, saat nafsu menerjang, dan akal sulit berfikir terang. mari segera menuntaskan ibadah yang satu ini,,,
    hehe..

    wassalamu’alaikum..
    D n L

    • indikablog 2010/04/20 at 11:06 AM Reply

      Wah, ‘tersangka’nya akhirnya baca juga..

      Makasi atas sharing2nya. Semoga pembaca blog ini bisa mengambil hikmah dari cerita ini

      Amiin.. doakan juga supaya saya nanti bisa menemukan seseorang yang bisa membimbing ke jalan yang benar ^_^. Hehe

  11. sudek 2010/07/02 at 2:32 AM Reply

    nice artikel pit…baru sempet baca…:D

    • indikablog 2010/07/02 at 10:05 AM Reply

      makasi sudek 😀 semoga bermanfaat…
      btw, tau blogku dari mana ya?

  12. nei 2010/07/15 at 11:05 PM Reply

    baru baca pit..
    *telat banget aku*

    artikelnya sangat menginspirasi 😀
    moga2 temen kita D dan L jadi keluarga sakinah mawaddah warrohmah..
    aku blum sempet maen kermh mereka sampe skrg,,

    • indikablog 2010/07/16 at 6:54 PM Reply

      hoho.. lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali
      makasi nei, moga bisa bermanfaat buat yg lain juga
      amiin.. moga2 kita ntar juga bisa dapet pasangan yg bisa mbawa keluarga jadi sakinah mawaddah warrohmah juga 😀

      btw, tau blogku dari mana?

  13. R.A. 2011/02/23 at 5:17 AM Reply

    great, mantab artikelnya….jadi pengen cepet2 nikah nih….:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.