Road to Scholarship Step 1: Pengalaman TOEFL IBT

Setelah sekian lama vakum dari dunia perblog-an, simply karena ga ada waktu, sibuk kerjaan, bantuin suami persiapan berangkat S2 2 bulan yang lalu, sampai sibuk belajar TOEFL tapi aslinya sih cuman karena males ngisi blog.. hehehe akhirnya saya memutuskan untuk menulis lagi 😀 Kali ini saya akan sedikit cerita tentang pengalaman saya mengikuti TOEFL IBT untuk pertama kali.

Sejujurnya, saya baruuuu aja pulang dari tes pas saya  nulis post ini.. mumpung masih fresh di ingatan takut keburu lupa 😛 Saya nggak akan menyebutkan soal yang saya kerjakan ya karena di salah satu agreement yang saya tanda tangani sebelum masuk ruang tes disebutkan bahwa peserta tes tidak boleh membocorkan soal maupun jawaban dalam bentuk apapun. Jadi kalaupun saya bahas soal, akan saya bahas secara general.

Mengikuti tes ini adalah langkah pertama saya mengejar beasiswa impian ke luar negeri. Setahu saya hampir semua universitas yang bagus di luar negeri membutuhkan nilai TOEFL atau IELTS sebagai syarat masuk universitas mereka, kecuali untuk mereka yang ingin mengambil kuliah menggunakan bahasa lain. Nilai cut-off masing-masing universitas biasanya beda-beda, jadi sebaiknya cek ke universitas yang kita inginkan supaya tahu pasti berapa nilai minimal yang kita butuhkan. Kebetulan untuk beasiswa yang mau saya apply ini butuh skor lumayan 80/120, sedangkan untuk daftar ke universitasnya saya butuh minimal 90/120. Nilai yang cukup tinggi mengingat -entah kenapa- kebanyakan orang Indonesia nilai TOEFLnya kalah jauh dibandingkan dengan negara lain.

Dulu saya menganggap dapat nilai lebih dari 90 itu sudah sangat hebat, tapi ternyata oh ternyata.. di atas langit masih ada langit. Beberapa minggu yang lalu saya nggak sengaja menemukan forum yang berisi orang-orang yang akan dan sedang studi ke luar negeri (mostly to europe or US) dan sebagian besar mereka adalah orang India. Saya pernah baca disana, ada orang yang bilang ingin masuk salah satu universitas yang saya incar dan nilai TOEFLnya “hanya” 94. Guess what, banyak yang menyarankan untuk mengambil TOEFL lagi karena nilai segitu mereka anggap terlalu ngepas untuk bisa lolos walaupun sudah di atas nilai cut-off. Dan sewaktu saya baca profil orang-orang yang komentar disitu nilai TOEFL dan IELTSnya memang nggak main-main. Kebanyakan  nilai TOEFL mereka di atas 100 atau IELTS mereka minimal 6.5 (kebanyakan 7 ke atas), bahkan saya sempat menemukan ada member yang punya nilai TOEFL 117, yeah 117, kurang 3 poin lagi menuju nilai sempurna. Sejak itu pandangan saya terhadap nilai TOEFL jadi berubah drastis ^^; Jadi nggak heran kalau beberapa waktu lalu saya sempat dengar ada yang bilang kalau kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia masih jelek.

Sejak tahu kenyataan pahit itu saya langsung termotivasi untuk belajar setiap hari. Karena saya masih kerja jadi saya lebih sering belajar sewaktu weekend dan kadang-kadang belajar sepulang kerja kalau nggak lembur. Saya efektif belajar cuma sekitar 1 bulan karena harus mengejar deadline beasiswa jadi saya harus cepat-cepat ikut TOEFL. Saya cuma belajar dari 2 sumber, The Official Guide to the TOEFL iBT dan Cambridge TOEFL iBT preparation. Saya sempat mencoba Barron dan Kaplan tapi saya kurang sreg. Barron level soalnya terlalu mudah dan Kaplan terlalu banyak vocabulary question di readingnya. Dan memang banyak yang menyarankan 2 sumber yang saya pakai karena lebih mendekati bentuk soal tes yang asli. Untuk tips dan trik belajar Insya Allah akan saya bahas di post lain.

Pendaftaran TOEFL bisa dilakukan melalui website ETS atau datang langsung ke tempat tes yang diinginkan. Untuk pendaftaran melalui website seingat saya cuma bisa dibayar memakai kartu kredit atau bank Amerika. Biaya tes 180 dollar dan sewaktu saya tes kurs dollar sedang tinggi jadi agak lumayan kalau dijadikan rupiah T_T. Setelah register username, kita bisa langsung mendaftar dan memilih tes sesuai waktu dan tempat yang diinginkan. Terakhir saya lihat waktu tes kebanyakan hari sabtu atau minggu tidak ada yang di hari kerja. Kita bisa mendaftar paling lambat 7 hari sebelum tanggal tes, tapi sebaiknya segera mendaftar karena slot tes cukup terbatas dan akan cepat sekali penuh apalagi di musim-musim pendaftaran seperti sekarang.

Hari-H saya berangkat dari Cikarang ke Plaza Central tempat saya melakukan tes sekitar jam 5 pagi, tapi bisnya baru berangkat jam setengah 6 -__- untung nggak macet jadi sekitar setengah 7 saya sudah sampai di tempat. Berhubung belum sempat sarapan, saya sarapan dulu di McD yang ada di belakang gedung. Tempat tes di Plaza Central ini dikelola oleh International Test Centre yang cukup kredibel dan lumayan banyak direkomendasikan. Ada 2 tempat tes di gedung ini, di lantai 15 dan 17 dan kebetulan saya kebagian di lantai 17.Sewaktu registrasi ada mbak-mbak yang ternyata dipindah ke lantai 15 dan dia agak nggak terima karena dia sudah sempat survey dan bilang kalau tempat tesnya lebih enak di lantai 17 karena ada sekat di antara peserta tes jadi minim gangguan dari meja sebelah. Dalam hati merasa bersyukur kebagian di lantai 17.

Setelah datang, ambil form dan isi semacam surat pernyataan dan tanda tangan. Setelah itu nanti akan dipanggil satu-satu untuk verifikasi ID dan pengambilan foto (nanti akan digunakan di hasil tes kita). Jangan lupa untuk membawa ID card yang masih berlaku (KTP, SIM atau paspor) karena waktu itu ada mas-mas yang KTPnya expired bulan September dan KTPnya ditolak, untungnya dia bawa SIM jadi masih diperbolehkan ikut tes. Peserta tes masuk secara bersamaan ke ruang tes dan semua barang-barang disimpan dan dikumpulkan di box yang diletakkan di bagian belakang ruangan. Yang boleh dibawa hanya ID card  jadi HP, kertas-kertas, kunci, dompet semua dikumpulkan di box. Tidak perlu membawa alat tulis karena kita sudah disediakan 2 buah pensil dan 3 lembar kertas untuk mencatat.

Dalam ruangan tes ada 20 meja yang berisi laptop dan headset. Setting ruangan mirip seperti lab bahasa inggris yang setiap mejanya diberi sekat atau partisi jadi jangan harap melirik-lirik jawaban orang lain 😀 Pengawasan disini sangat ketat karena selain ada pengawas yang mondar-mandir di dalam ruangan, di atas masing-masing meja dipasang kamera pengawas yang dikontrol dari resepsionis. Jadi semua kegiatan kita diawasi oleh petugas tes di depan. Saya kebagian duduk di dekat tembok jadi agak terbantu karena minim gangguan dari orang yang mondar-mandir di jalan.

Sekitar jam 8.05 tes dimulai, bagian pertama adalah reading section dan begitu membuka saya langsung shock karena bacaan pertama tentang sejarah dan saya paling nggak suka baca sejarah. Entah kenapa saya merasa level reading ini jauh lebih susah kalau dibandingkan dengan level soal yang ada di The Official Guide to the TOEFL iBT, padahal suami saya bilang sewaktu dia tes TOEFL soalnya lumayan gampang. Sewaktu melakukan practice test di The Official Guide to the TOEFL iBT atau di Cambridge Preparation saya biasanya mendapat skor lumayan tinggi (di atas 25) tapi entah kenapa saya agak pesimis dengan reading section di tes ini. Terlalu banyak model inferring question dan untuk menemukan jawabannya saya harus membaca -hampir- satu paragraf dan ini sangat memakan waktu T_T Beruntung saya nggak dapet soal tambahan di section ini.

Oh iya, ada kemungkinan kita akan mendapat soal tambahan dari ETS. Soal ini akan diberikan ke peserta secara random, bisa jadi kita akan mendapatkan soal tambahan di reading section, bisa di listening section, atau malah bisa keduanya *jackpot banget*. Normalnya di reading section akan ada 3 artikel yang harus kita baca dan dari  masing-masing artikel akan ada 14 pertanyaan, jadi kalau saat mengambil tes kita kebagian 4 artikel dan kurang lebih 56 pertanyaan itu artinya kita kebagian soal tambahan. Soal tambahan ini nggak akan menambah nilai kita, tapi ini hanya semacam experimental question yang dibuat oleh ETS. Saya kurang tahu sih tujuannya apa, tapi kemungkinan untuk mempersiapkan soal tes selanjutnya. Kita tidak akan pernah tahu mana yang merupakan soal tambahan, mana yang bukan. Jadi sangat penting untuk mengerjakan semua soal sebaik-baiknya. Ada satu lagi hal tidak mengenakkan sewaktu reading ini, mas-mas di sebelah saya menggoyang-nggoyangkan kaki jadi meja saya ikut goyang-goyang juga >.< sudah pusing baca artikel, masih ditambah pusing karena baca teks goyang-goyang. Sampai sekarang masih sebel kalau ingat :p Saran saya, hormatilah peserta lain dengan tidak melakukan aktivitas yang sekiranya menrusak konsentrasi orang lain 🙂

Setelah reading section, langsung lanjut ke listening section. Akan ada 6 listening di bagian ini dengan total kurang lebih 34 pertanyaan. Tapi saya dapat jackpot soal tambahan, jadi saya harus mendengarkan ekstra 3 listening. Saat saya tes, sepertinya hanya beberapa orang yang mendapat tambahan soal ini (saya salah satunya T_T) jadi akan ada beberapa orang yang keluar ruangan terlebih dahulu untuk istirahat. Dapat soal tambahan ini ada enak ada nggak enaknya sih, kebetulan sebelah saya nggak kebagian soal tambahan jadi dia selesai lebih dulu, dan itu artinya dia juga lebih dulu mengerjakan speaking section. Jadi di saat saya sedang mengerjakan listening, orang di sebelah saya sudah memulai speaking sectionnya and trust me it was very distracting. Saya lumayan terganggu dengan suara dia, apalagi dia cowok dan suaranya lumayan keras. Jadi walaupun headset sudah dimaksimalkan volumenya, suaranya masih terdengar >.< Selesai mengerjakan listening section, tidak sengaja saya mendengar dia menjawab soal, jadi saya bisa dapet gambaran kira-kira soalnya apa 😀 hehehe.. Waktu istirahat sekitar 10 menit, bisa dipakai untuk minum (disediakan air putih di meja resepsionis) atau ke toilet. Kita tidak diperbolehkan mengakses barang pribadi kita, termasuk HP. Waktu istirahat saya pakai untuk minum sambil merancang jawaban dari pertanyaan yang tadi tidak sengaja saya dengar :p

Speaking section terdiri dari 6 pertanyaan, karena pertanyaan pertama sudah ada gambaran bocoran dari sebelah jadi lumayan lancar sewaktu bicara. Pertanyaan di speaking ini terbagi menjadi 2 bagian, 2 pertanyaan pertama menanyakan tentang pendapat kita (jadi semacam free speech), 4 pertanyaan berikutnya kita harus membaca tulisan dan atau mendengarkan percakapan atau sebuah kelas dan kita dimintai pendapat tentang permasalahan dalam percakapan tersebut atau merangkum isi sebuah kuliah. Overall, saya cukup puas dengan speaking saya, meskipun ada satu pertanyaan yang saya sempat ngeblank karena kehabisan kata-kata padahal waktu masih tersisa 6-7 detik. Saat melakukan speaking ini, kita kudu bisa fokus karena akan ada banyak sekali suara orang-orang di sebelah, depan dan belakang kita. Jadi kalau bisa  lakukan latihan di tempat yang ramai orang untuk melatih fokus dalam keadaan ramai orang berbicara.

Section terakhir, writing terdiri dari 2 pertanyaan. Pertanyaan pertama kita akan diberi bacaan dan mendengarkan sebuah kuliah dan kita akan diminta untuk menuliskan ringkasan atau membandingkan isi dari bacaan dan kuliah tersebut. Pertanyaan kedua murni meminta pendapat kita tentang suatu permasalahan atau keadaan. Sering latihan menulis dalam Bahasa Inggris sangat membantu sekali dalam section ini. Jadi perbanyaklah menulis dalam Bahasa Inggris 😀 Sekitar jam 12 tes selesai dan kita bisa langsung pulang. Secara garis besar, saya malah kurang pede dengan reading dan listening walaupun saat pratice test nilai saya lumayan tinggi di kedua bagian ini. Entah mungkin karena grogi, mungkin karena terlalu banyak distraksi saat tes, atau mungkin karena soalnya yang memang susah 😀 Sekarang tinggal berdoa menunggu hasil TOEFL 10 hari lagi. Semoga bisa diberi hasil yang terbaik. Aamiin 🙂

Lain kali akan saya buat post khusus tentang serba-serbi TOEFL dan tips/trik untuk persiapan TOEFL. See you at my next post 😉

Tagged: , ,

Comments: 5

  1. ProfTOEFL 2015/05/19 at 3:51 PM Reply

    Halo Indika, terimakasih sudah berbagi pengalamannya, sangat bermanfaat!
    Untuk rekan-rekan lainnya, mungkin bisa berlatih menghadapi TOEFL iBT dengan cara mengikuti tes prediksi / simulasi / try-out TOEFL online di ProfTOEFL.

    Kalau kamu mau dapat tes prediksi TOEFL iBT gratis, beserta skor, identifikasi kelemahan dan saran untuk meningkatkan skormu, bisa lihat disini: http://proftoefl.com/mau-tes-prediksi-tryout-tes-toefl-online-gratis/

    Good luck!

  2. irza 2017/04/23 at 8:51 PM Reply

    mau tanya jika reading sewaktu toefl ibt apakah bacaan paragraf boleh diulangi kembali apakah langsung melanjutkan pertanyaan saja? apakah boleh melihat pertanyaan terlebih dahulu? terima kasih

    • indika 2017/04/23 at 9:17 PM Reply

      Seingat saya di monitor nanti dibagi 2 bagian (kanan-kiri). Satu bagian untuk materi readingnya dan satu bagian lagi untuk pertanyaannya. Jadi bisa baca pertanyaan dulu dan bisa baca materi readingnya kapan saja. Saran saya biasakan mengerjakan soal dari software yang ada di buku latihan iBT supaya familiar. Good luck testnya!

  3. Muhammad Izzuddin al Fikri 2017/06/24 at 2:16 AM Reply

    Wah makasih mba atas informasinya.
    Ditunggu postingan tips/trik untuk persiapannya 😆

    • indika 2018/02/01 at 12:58 AM Reply

      Hi Muhammad, maaf baru sempat baca dan bales komennya
      Semoga bisa segera nulis lagi ya, kemarin-kemarin masih agak sibuk jadi ndak sempat update blog.

      Terima kasih sudah mampir di blog ini ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.